Pengertian Ijtihad

Posted on

Pengertian Ijtihad – Islam merupakan agama yang sempurna. Agama ini menyimak umatnya dari urusan-urusan yang penting, sampai hal-hal kecil dalam kehidupan. Maka beruntunglah untuk kaum muslimin, sebab kehidupannya sudah ditata sedemikian rupa oleh agama Islam. Adalah Al Quran dan Sunnah yang menjadi dua sumber pedoman dalam hidup seorang muslim.

Tapi sebagai di antara agama terbesar di dunia, umat Islam pun sering dihadapkan dengan sekian banyak permasalahan, khususnya yang sehubungan dengan syara atau ibadah. Oleh sebab itu, selain memakai Al Quran dan Sunnah, ulama pun menggunakan ijma dan qiyas sebagai instrumen untuk menolong memecahkan masalah umat.

Di samping itu, semua ulama pun harus mengerjakan ijtihad dalam menggali solusi persoalan yang dihadapi umat Islam. Berbagai perbedaan mazhab yang anda kenal saat ini adalah hasil dari ijtihad. Kita tahu tidak terdapat yang salah dari mazhab-mazhab itu karena itu semua adalah hasil terbaik dari semua mujtahid untuk mengejar hukum terbaik.

Dengan adanya ijtihad, Islam menjadi agama yang luwes, dinamis, sesuai dengan dinamika zaman. Dalam artikel kali ini, kami akan membawa Anda untuk mengetahui lebih lanjut tentang pengertian ijtihad, fungsinya, dan juga mengetahui bagaimana rukun serta kriteria dari seorang mujtahid.

Pengertian Ijtihad

Dikutip dari kitab Sudah terdapat Quran dan Sunnah Mengapa Harus terdapat Ijtihad?, Ahmad Sarwat, Lc., MA (2019: 10), ijtihad secara Bahasa berasal dari kata ijtahada-yajtahidu yang dalam kamus kata ini mempunyai makna badzlul juhdi yakni bersungguh-sungguh atau mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Sedangkan secara istilah, semua fuqaha mendifinisikan istilah ijtihad dengan sekian banyak ungkapan cocok dengan perbedaan mereka dalam mengetahui ijtihad serta ruang lingkupnya.

Misalnya Asy-Syaukani mendefinisikan ijtihad ialah mengerahkan kekuatan guna mendapatkan hukum syari yang mempunyai sifat praktek dengan cara istimbath.

Al-Amini membuat pengertian ijtihad sebagai menguras segenap keterampilan dalam rangka mendapatkan sangkaan atas sesuatu dari hukum syariyah pada satu pendapat, dimana jiwa sudah merasa lumayan atas urusan itu.

Atau dapat diputuskan bahwa definisi ijtihad ialah proses penetapan sebuah hukum dengan melimpahkan seluruh benak dan tenaga secara bersungguh-sungguh.

Fungsi Ijtihad

Dasar dalam mengerjakan ijtihad ialah Al-Qur’an dan Sunnah. Jadi dalam mengerjakan ijtihad semua ulama jangan sembarangan dalam menilai hukum dari sebuah permasalahan. Berikut ialah fungsi dari ijtihad:

  • Fungsi ijtihad al-ruju’ (kembali), membalikkan ajaran-ajaran Islam untuk al-Qur’an dan sunnah dari segala interpretasi yang tidak cukup relevan.
  • Fungsi ijtihad al-ihya (kehidupan), menghidupkan pulang bagian-bagian dari nilai dan Islam semangat supaya mampu membalas tantangan zaman.
  • Fungsi ijtihad al-inabah (pembenahan), mengisi ajaran-ajaran Islam yang sudah di-ijtihadi oleh ulama mula-mula dan dimungkinkan adanya kekeliruan menurut keterangan dari konteks zaman dan situasi yang dihadapi.

Baca juga: Pengertian Aqidah

Rukun Ijtihad

Berikut merupakan rukun yang mesti diisi ketika mengerjakan ijtihad:

  • Al-Waqi’ yakni adanya permasalahan yang terjadi atau diperkirakan akan terjadi tidak dijelaskan oleh nash
  • Mujtahid merupakan orang yang mengerjakan ijtihad dan mempunyai keterampilan untuk ber-ijtihad dengan kriteria-syarat tertentu
  • Mujtahid fill merupakan hukum-hukum syariah yang mempunyai sifat amali (taklifi)
  • Dalil syara guna menilai sebuah hukum untuk mujtahid fill.

Hukum Ijtihad

Adapun hukum mengerjakan ijtihad tertulis dalam Jurnal berjudul Ijtihad: Teori dan Penerapannya oleh Ahmad Badi’, di antaranya:

  • Fardu ‘ain, untuk mengerjakan ijtihad untuk permasalahan dirinya sendiri dan ia mesti melaksanakan hasil ijtihadnya sendiri.
  • Fardu ‘ain, juga untuk membalas permasalahan yang belum terdapat hukumnya. Dan bila tidak dibalas dikhawatirkan bakal terjadi kekeliruan dalam mengemban hukum tersebut, dan berakhir waktunya dalam memahami kejadian tersebut.
  • Fardu kifayah, jika permasalahan yang dikemukakan kepadanya tidak dikhawatirkan akan berakhir waktunya, atau terdapat lagi mujtahid yang beda yang telah mengisi syarat.
  • Dihukumi sunnah, andai berijtihad terhadap persoalan yang baru, baik ditanya ataupun tidak.
  • Hukumnya haram, terhadap ijtihad yang telah diputuskan secara qat’i karena berlawanan dengan syara’.

Baca juga: Pengertian Pengukuran

Syarat untuk Menjadi Mujtahid

Terdapat banyak perbedaan untuk menilai kriteria-syarat dari seorang mujtahid. Adapun kriteria-syarat yang sudah disepakati merupakan:

1. Mengetahui Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan sumber hukum Islam primer sebagai fondasi dasar hukum Islam. Oleh sebab itu, seorang mujtahid mesti memahami al-Qur’an secara mendalam.

2. Mengetahui Asbab al-Nuzul

Mengetahui karena turunnya ayat tergolong dalam di antara syarat memahami al-Qur’an secara komprehensif, tidak saja pada tataran teks tetapi pun akan memahami secara sosial-psikologis.

3. Mengetahui Nasikh dan Mansukh

Hal ini bertujuan untuk menghindari supaya jangan sampai beralasan menguatkan sebuah hukum dengan ayat yang sebetulnya telah di-nasikh-kan dan tidak dapat dipergunakan guna dalil.

4. Mengetahui As-Sunnah

Yang dimaksudkan as-Sunnah merupakan ucapan, tindakan atau peraturan yang diriwayatkan dari Nabi SAW.

5. Mengetahui Ilmu Diroyah Hadis

Seorang mujtahid mesti memahami pokok-pokok hadis dan ilmunya, tentang ilmu tentang semua perawi hadis, kriteria-syarat diterima atau sebab-sebab ditolaknya sebuah hadis, tingkatan kata dalam memutuskan adil dan cacatnya seorang perawi hadis dan hal-hal yang tercakup dalam ilmu hadis. Kemudian mengaplikasikan pengetahuan tadi dalam memakai hadis sebagai dasar hukum.

Baca juga: Pengertian PLC

6. Mengetahui Hadis yang Nasikh dan Mansukh

Mengetahui hadis yang nasikh dan mansukh ini dimaksudkan supaya seorang mujtahid tidak boleh sampai berpegang pada sebuah hadis yang telah jelas dihapus hukumnya dan jangan dipergunakan.

7. Mengetahui Asbab Al-Wurud Hadis

Syarat ini sama dengan seorang mujtahid yang seharusnya menguasai asbab al-nuzul, yakni memahami setiap kondisi, kondisi dan lokus hadis itu muncul.

8. Mengetahui Bahasa Arab

Seorang mujtahid wajib memahami bahasa Arab dalam rangka supaya penguasaannya pada objek kajian lebih mendalam sebab teks otoritatif Islam memakai bahasa Arab.

9. Mengetahui Tempat-tempat Ijma

Bagi seorang mujtahid, mesti memahami hukum-hukum yang sudah disepakati oleh semua ulama sampai-sampai tidak terjerumus dalam menyerahkan fatwa yang berlawanan dengan hasil ijma.

10. Mengetahui Ushul Fiqh

Ilmu ushul fiqh, yaitu sebuah ilmu yang telah dibuat oleh semua fuqaha untuk menempatkan kaidah-kaidah dan teknik untuk memungut istinbat hukum dari nash dan mencocokkan teknik pengambilan hukum yang tidak terdapat nashhukumnya.

11. Mengetahui Maksud dan Tujuan Syariah

Karena sesungguhnya syariat Islam diturunkan untuk mengayomi dan merawat kepentingan manusia.

12. Mengenal Manusia dan Kehidupan Sekitarnya

Seorang mujtahid mesti memahami tentang suasana zaman, masyarakat, problem, aliran ideologi, politik dan agamanya serta mengenal sejauh mana interaksi saling memengaruhi antara masyarakat tersebut.

13. Bersifat Adil dan Takwa

Hal ini bertujuan supaya produk hukum yang sudah diformulasikan oleh mujtahid benar-benar proporsional sebab mempunyai sifat adil, jauh dari kepentingan politik dalam istinbat hukumnya.

Demikianlah penjelasan tentang Ijtihad dari RuangPengetahuan.Co.Id semoga bermanfaat dan menambah wawasan kalian, sampai jumpa.