Pengertian Pendidikan Karakter

Posted on

Pengertian Pendidikan Karakter – Pendidikan karakter sekarang menjadi salah satu wacana utama dalam kepandaian nasional di bidang karakter Pendidikan. Seluruh pekerjaan belajar serta melatih yang terdapat dalam negara indonesia mesti merujuk pada pelaksanaan pendidikan Karakter.

Ini pun termuat di dalam Naskah Rencana Aksi Nasional Pendidikan Karakter yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan pada tahun 2010. Dalam naskah tersebut ditetapkan yakni edukasi karakter menjadi bagian utama dalam pencapaian visi dan tujuan pembangunan Nasional yang tergolong pada RPJP 2005-2025.

Pengertian Pendidikan Karakter

Pengertian pendidikan karakter merupakan suatu sistem edukasi yang bertujuan guna menanamkan nilai-nilai karakter tertentu untuk peserta didik, di mana di dalamnya ada komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta perbuatan untuk mengerjakan nilai-nilai tersebut.

Jadi, pendidikan karakter yaitu suatu usaha insan secara sadar dan terencana guna mendidik dan memberdayakan potensi peserta didik guna membina karakter pribadinya sampai-sampai dapat menjadi pribadi yang bermanfaat untuk diri sendiri dan lingkungannya.

Pendidikan karakter (character education) paling erat hubungannya dengan edukasi moral dimana tujuannya ialah untuk menyusun dan mengajar kemampuan pribadi secara terus-menerus untuk penyempurnaan diri ke arah hidup yang lebih baik.

Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Para Ahli

Agar lebih mengetahui apa itu character education, maka kita bisa merujuk pada pendapat beberapa para ahli berikut ini:

1. T. Ramli

Berdasarkan keterangan dari T. Ramli, edukasi karakter merupakan pendidikan yang mengedepankan hakikat dan arti terhadap moral dan akhlak sehingga urusan itu akan dapat membentuk individu peserta didik yang baik.

2. Thomas Lickona

Menurut keterangan dari Thomas Lickona, pengertian edukasi karakter ialah suatu usaha yang disengaja untuk menolong seseorang sampai-sampai ia bisa memahami, memperhatikan, dan mengerjakan nilai-nilai etika yang inti.

3. John W. Santrock

Berdasarkan keterangan dari John W. Santrock, character education yaitu pendidikan yang dilaksanakan dengan pendekatan langsung untuk peserta didik guna menanamkan nilai moral dan memberi kan pelajaran untuk murid tentang pengetahuan moral dalam upaya menangkal perilaku yang yang dilarang.

4. David Elkind

Menurut keterangan dari Elkind, pengertian edukasi karakter yakni suatu metode edukasi yang dilaksanakan oleh tenaga pendidik untuk memprovokasi karakter murid. Dalam urusan ini tampak bahwa guru tidak saja mengajarkan materi latihan tetapi pun mampu menjadi seorang teladan.

Baca juga: Pengertian Latar Belakang

Fungsi Pendidikan Karakter

Secara umum fungsi pendidikan ini ialah sebagai pembentuk karakter peserta didik sampai-sampai menjadi individu yang bermoral, berakhlak mulia, bertoleran, tangguh, dan berperilaku baik.

Adapun sejumlah fungsi pendidikan karakter ialah sebagai berikut;

  • Untuk mengembangkan potensi dasar dalam diri insan sehingga menjadi pribadi yang berpikiran baik, berhati baik, dan berperilaku baik.
  • Untuk membina dan memperkuat perilaku masyarakat yang multikultur.
  • Untuk membina dan menambah peradaban bangsa yang kompetitif dalam hubungan internasional.
  • Character education seharusnya dilaksanakan sejak dini, yaitu semenjak masa kanak-kanak. Pendidikan ini dapat dilakukan di lingkungan keluarga, sekolah, dan lingkungan, serta memanfaatkan sekian banyak media belajar.

Tujuan Pendidikan Karakter

Pada dasarnya destinasi utama pendidikan karakter yaitu untuk membina generasi bangsa yang tangguh, di mana masyarakatnya berakhlak mulia, bermoral, bertoleransi, dan bergotong-royong. Untuk menjangkau tujuan itu maka di dalam diri peserta didik mesti ditanamkan nilai-nilai pembentuk karakter yang bersumber dari Agama, Pancasila, dan Budaya.

Berikut ialah nilai-nilai tujuan karakter tersebut:

  • Kejujuran
  • Sikap toleransi
  • Disiplin
  • Kerja keras
  • Kreatif
  • Kemandirian
  • Sikap demokratis
  • Rasa hendak tahu
  • Semangat kebangsaan
  • Cinta tanah air
  • Menghargai prestasi
  • Sikap bersahabat
  • Cinta damai
  • Gemar membaca
  • Perduli terhadap lingkungan
  • Perduli sosial
  • Rasa tanggungjawab
  • Religius.

Baca juga: Pengertian Akulturasi

Lima Nilai Karakter Utama

Di Indonesia, gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) konsentrasi pada lima nilai karakter utama yang bersumber dari Pancasila, yaitu:

1. Nilai Karakter Religius

Penerapan nilai karakter religius dalam kehidupan masyarakat Indonesia keseharian dapat tampak dalam sejumlah hal, di antaranya:

  • Sikap cintai damai
  • Sikap toleransi
  • Menghargai perbedaan agama dan kepercayaan
  • Berpendirian teguh
  • Percaya diri
  • Kerja sama antar pemeluk agama dan kepercayaan
  • Anti terhadap perundungan dan kekerasan
  • Mencintai lingkungan
  • Dan lain sebagainya.

2. Nilai Karakter Nasionalis

Nilai karakter nasionalis merupakan teknik berpikir, bersikap, dan beraksi yang mengindikasikan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan terhadap bahasa, lingkungan, sosial, budaya, dan politik bangsa. Penerapan nilai karakter nasionalis dalam kehidupan masyarakat keseharian dapat tampak dalam sejumlah hal, di antaranya:

  • Apresiasi terhadap kebiasaan Indoenesia
  • Menjaga kekayaan kebiasaan Indonesia
  • Cinta tanah air
  • Menghormati keberagaman budaya, suku, dan, agama.

3. Nilai Karakter Integritas

Nilai karakter integritas adalah nilai yang menjadi dasar perilaku setiap pribadi sehingga pribadi tersebut dapat diandalkan dalam ucapan dan perbuatan, serta berkomitmen terhadap moral dan nilai-nilai kemanusiaan. Penerapan nilai karakter integritas dalam kehidupan masyarakat keseharian dapat tampak dalam sejumlah hal, di antaranya:

  • Sikap bertanggungjawab
  • Aktif tercebur dalam kehidupan sosial
  • Konsisten dalam ucapan dan tindakan yang menurut kebenaran.

4. Nilai Karakter Mandiri

Nilai karakter mandiri adalah sikap dan perilaku yang tidak tergantung pada orang beda dalam kehidupannya. Dengan kata lain, pribadi yang berdikari akan mempergunakan pikiran, tenaga, dan waktunya guna mewujudkan asa dan cita-citanya. Penerapan nilai karakter mandiri dapat tampak dalam sejumlah hal, di antaranya:

  • Memiliki etos kerja yang baik
  • Memiliki daya juang yang tinggi
  • Tangguh dalam menghadapi tanangan
  • Memiliki keberanian dan kreatif dalam bertindak.

5. Nilai Karakter Gotong Royong

Nilai karakter gotong-royong adalah sikap dan perilaku yang menghargai motivasi kerja sama dan bahu membahu dalam menuntaskan masalah bersama. Penerapan nilai karakter gotong-royong bisa terlihat dalam sejumlah hal, di antaranya:

  • Menghargai sesama
  • Dapat bekerjasama
  • Mampu berkomitmen terhadap keputusan bersama
  • Saling bantu menoling
  • Rasa solidaritas dan sikap kerelawanan
  • Anti terhadap diskriminasi dan kekerasa.

Pentingnya Pendidikan Karakter

Seperti anda ketahui bahwa proses globalisasi secara terus-menerus akan dominan pada evolusi karakter masyarakat Indonesia. Kurangnya edukasi karakter akan memunculkan krisis moral yang berdampak pada perilaku negatif di masyarakat, misalnya; pergaulan bebas, penyalahgunaan obat-obat terlarang, pencurian, kekerasan terhadap anak, dan lain sebagainya.

Berdasarkan keterangan dari Thomas Lickona, minimal ada tujuh dalil mengapa character education mesti diserahkan kepada penduduk negara semenjak dini, yaitu;

  • Merupakan teknik paling baik guna meyakinkan semua murid memiliki jati diri dan karakter yang baik dalam hidupnya.
  • Pendidikan ini dapat menolong meningkatkan prestasi akademik anak didik.
  • Sebagian anak tidak dapat membentuk karakter yang kuat guna dirinya di lokasi lain.
  • Dapat membentuk pribadi yang menghargai dan memuliakan orang beda dan bisa hidup di dalam masyarakat yang majemuk.
  • Sebagai upaya menanggulangi akar masalah moral-sosial, laksana ketidakjujuran, ketidaksopanan, kekerasan, etos kerja rendah, dan lain-lain.
  • Merupakan teknik terbaik untuk menyusun perilaku pribadi sebelum masuk ke dunia kerja/ usaha.
  • Sebagai teknik untuk mengajarkan nilai-nilai kebiasaan yang adalahbagian dari kerja sebuah peradaban.

Sistem Karakter

Seperti yang sudah diungkapkan sekian banyak pengertian di atas, karakter tampaknya terdiri dari tidak sedikit unsur yang saling bersangkutan satu sama lain. Ya, sebab karakter minimal terdiri dari tiga ranah yang saling berhubungan, yakni pengetahuan moral, perasaan moral, dan perbuatan moral yang dinamakan dengan sistem karakter.

Lickona dan Amirulloh (2015, hlm.14-18) menyatakan bahwa sistem karakter terdiri tiga ranah yang saling bersangkutan dan saling mempengaruhi, yakni:

1. Pengetahuan Moral (Moral Knowledge)

Pengetahuan moral ialah kemampuan pribadi untuk mengetahui, memahami, mempertimbangkan, membedakan, menginterpretasikan macam-macam moral yang mesti diterapkan dan yang mesti ditanggalkan. Pengetahuan moral terdiri dari enam komponen yang meliputi:

  • Kesadaran Moral, adalahkesadaran untuk menyimak dan mengemban moral yang terdapat di sekitarnya.
  • Pengetahuan Nilai Moral, keterampilan untuk mengetahui nilai moral dalam sekian banyak situasi.
  • Memahami Sudut Pandang Lain, ialah kemampuan guna menghargai dan menikmati pendapat orang lain.
  • Penalaran Moral, keterampilan untuk memahami, mempertimbangkan dan memisahkan makna bermoral.
  • Keberanian Mengambil Keputusan, yaitu keterampilan untuk tidak ragu menilai opsi yang tepat saat merasakan dilema moral.
  • Pengenalan Diri (Self Knowledge), dapat mengetahui dan mengetahui perilaku sendiri serta bisa mengevaluasinya dengan jujur.

2. Perasaan Moral (Moral Feeling)

Perasaan moral merupakan kemampuan guna merasa mesti selalu mengerjakan tindakan moral yang cocok dengan norma dan merasa bersalah andai melakukan tindakan yang tidak cocok dengan norma (berbuat jahat). Perasaan ini pun terdiri dari enam komponen, yaitu:

  • Mendengarkan Hati Nurani, yakni perasaan moral naf mendorong seseorang untuk mengerjakan tindakan cocok dengan hati nurani dalam sisi kognitif dan sisi emosional. Sepintar-pintarnya manusia, kelebihannya ialah tetap menyimak emosi dan tidak buta terhadap sesuatu yang objektif bila dikomparasikan dengan kepintaran buatan.
  • Harga Diri (self esteem), yaitu mempunyai kesadaran untuk mengawal harkat dan martabat menurut nilai yang luhur.
  • Empati, mempunyai kepekaan (mampu turut merasakan) penderitaan orang lain.
  • Cinta Kebaikan, keterampilan untuk merasa suka dan senang saat melakukan kebaikan.
  • Kontrol Diri, keterampilan untuk mengendalikan emosi berlebih, baik ketika marah ataupun terlampau senang (euforia).
  • Rendah Hati (humility), berarti tidak menikmati rasa kelebihan yang berlebih, bisa tetap tersingkap terhadap perbaikan kekeliruan dan menanggulangi rasa sombong tetapi tetap percaya diri.

3. Tindakan Moral

Mampu bergerak dan mengerjakan tindakan nyata moral yang cocok dengan norma, sampai mencegah tindakan yang tidak cocok dengan norma kebajikan lingkungan. Tindakan moral terdiri menjadi tiga komponen utama, yakni:

  • Kompetensi (competence), merupakan keterampilan untuk mengolah perasaan moral menjadi perbuatan moral yang efektif.
  • Keinginan (will), keterampilan untuk powerful dan bertahan mengerjakan apa yang seharusnya dilaksanakan menurut pengetahuan dan perasaan moral.
  • Kebiasaan, ialah kemampuan untuk mengerjakan sesuatu secara konsisten dan berulang-ulang sampai telah terbiasa dan terasa lebih enteng untuk dilaksanakan secara terus-menerus.

Baca juga: Pengertian Youtube

Strategi Pelaksanaan Pendidikan Karakter

Lalu bagaimana supaya pendidikan karakter bisa melaksanakan sekian banyak tujuan dan faedah yang ingin dijangkau menurut nilai-nilai dan hal yang memengaruhinya?

Dalam Panduan Pelaksaan Pendidikan Karakter (Kemendiknas 2010, hlm. 15-17) Strategi pelaksanaan edukasi karakter di satuan edukasi adalahsuatu kesatuan dari program manajemen penambahan mutu berbasis sekolah yang terimplementasi dalam pengembangan, pengamalan dan penilaian kurikulum oleh masing-masing satuan pendidikan.

Masih dari Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter Kemendiknas, supaya pendidikan karakter dapat dilakukan secara optimal, pendidikan karakter bisa diimplementasikan melewati langkah-langkah sebagai berikut:

  • Sosialisasi ke stakeholders (komite sekolah, masyarakat, dan lembaga-lembaga lainnya)
  • Pengembangan dalam pekerjaan sekolah
  • Menyelenggarakan pekerjaan pembelajaran
  • Pengembangan Budaya Sekolah dan Pusat Kegiatan Belajar, melalui:
  • Kegiatan rutin
  • Kegiatan tambahan kurikuler
  • Menanamkannya melalui pekerjaan keseharian di lokasi tinggal dan di masyarakat.

Demikianlah penjelasan tentang Pendidikan Karakter dari RuangPengetahuan.Co.Id semoga bermanfaat dan menambah wawasan kalian, sampai jumpa.