Pengertian Syariah

Posted on

Pengertian Syariah – Kata syariah belakangan ini mulai marak diperbincangkan khalayak, terlebih dengan perkembangan ekonomi syariah yang makin menggeliat.

Namun, apakah syariah selalu mengatur perekonomian saja? Apa itu syariah? Syariah memiliki banyak arti, di antara di antaranya berarti ketetapan dari Allah untuk hamba-hamba-Nya atau segala urusan yang diturunkan Allah SWT untuk Nabi Muhammad SAW dalam format wahyu yang terdapat dalam Alquran dan sunnah.

Semula kata syariah berarti “jalan mengarah ke ke sumber air”, yaitu jalan ke arah sumber kehidupan. Untuk lebih jelasnya mari simak artikelnya dibawah ini.

Pengertian Syariah

Syariah merupakan jika ada teks yang tidak multitafsir dari Alquran, hadis, taqrir Nabi Muhammad SAW, serta semua sahabat, tabiin, tabi’ tabiin, ataupun konsesus ulama.

Artinya, syariah bisa bersumber dari hal-hal itu yang bisa diaplikasikan secara langsung. Semisal perintah shalat atau hal-hal yang mencantol akidah, muamalah, ibadah, dan akhlak.

Syariah secara istilah dapat ditafsirkan sebagai sebuah sistem atau aturan yang dapat jadi menata hubungan antara insan dengan Allah, atau hubungan insan dengan manusia.

Imam Abu Muhammad Ali bin Hazm dalam buku Al-Hikam fi Ushulil Ahkam membeberkan perbedaan pengertian syariah menurut klasifikasi tadi.

Namun syariah sendiri pun dalam perkembangannya diklasifikasikan menurut pertumbuhan zaman yang ada. Syariah untuk umat Muslim sangat tak asing sebab Allah SWT sudah mengabadikan eksistensi syariah untuk umat Muslim dalam Alquran.

Allah SWT berfirman dalam Alquran surat al-Maidah ayat 48 berbunyi: “Likulli ja’alna minkum syir’atan wa minhajaa,”. Yang artinya: “Untuk tiap-tiap umat salah satu kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang,”.

Dalam kehidupan sehari-hari, syariah sangat sehubungan erat dengan ilmu fikih. Karena syariah sendiri adalahlandasan fikih, sementara fikih adalahmetode ilmu yang memerinci syariah dalam realitas yang terjadi.

Sedangkan konteks fikih, menurut keterangan dari Imam Abu Hasan Al-Hamidi dalam buku Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam menjelaskan, fikih adalahpengetahuan mengenai hukum-hukum syariah yang didapat dalam dalil-dalil terperinci.

Fikih sejatinya adalahsuatu cara ilmu yang menghasilkan kesepakatan hukum menurut cara konsesus ulama yang merujuk pada alasan Alquran maupun hadis.

Karena diperoleh melalui proses konsesus itu, maka tak heran masing-masing hukum yang dicetuskan dari suatu ijtihad ulama tak selamanya seragam.

Untuk itu, arti dan definisi syariah dalam penerapannya diberi batas dengan mencakup ilmu fikih dan ilmu ushul fikih. Keduanya tak lepas dari empat bidang pembahasan andai diklasifikasikan dalam Madzhab Imam Syafi’i antara beda ibadah, muamalah, uqubah, dan munakahah.

Sedangkan unsur yang lumayan dikenal ketika ini ialah elemen muamalah. Yang tergolong di dalamnya berisi mengenai hukum-hukum sosial, perdata, warisan, perdagangan, keuangan, dan lain sebagainya. Aspek syariah muamalah ini ramai dikenal sebab berisi aspek kepentingan keduniaan yang tak asing sehari-hari.

Untuk itu hukum syariah dengan ilmu fikih di Indonesia saling berkaitan. Apalagi masyarakat Muslim Indonesia mayoritasnya menganut aliran Madzhab Syafi’i, sampai-sampai penerapan dua-duanya sangat dibutuhkan. Shalat, puasa, zakat, haji adalahperintah yang secara syariah ditata dengan jelas.

Sedangkan bagaimana menghukumi tata teknik perdagangan, pernikahan, sampai adab diurus melewati jalur fikih yang dinamikanya lentur namun tidak melenceng dari doktrin Alquran dan hadis.

Baca juga: Pengertian Hari Kiamat

Pengertian Syariah Menurut Para Ahli

Berikut merupakan definisi syariah menurut beberapa para ahli.

1. Fyzee (1965)

Pengertian syariah merupakan sama dengan yang dipungut dalam istilah bahasa Inggris yang dinamakan sebagai Canon of Law.

Canon of Law sendiri mempunyai makna borongan perintah Tuhan sampai-sampai setiap perintah-perintah tersebut disebut dengan hukum.

Perlu diketahui bahwa hukum Allah tidaklah gampang untuk dimengerti, sementara syariah sendiri sudah mencakup seggala tingkah laku pada manusi.

2. Hanafi (1984)

Syariah menurut keterangan dari Hanafi yaitu hukum-hukum yang diselenggarakan oleh Tuhan untuk semua hamba-Nya melewati salah seorang Nabi-Nya, baik hukum tersebut sehubungan dengan teknik mengadakan tindakan yang dinamakan sebagai hukum cabang atau amalan.

3. Amir Syarifuddin (1999)

Syariah diserupakan dengan jalan air menilik bahwa barang siapa yang mengekor syariah, ia bakal mengalir dan bersih jiwanya.

Allah menjadikan air sebagai penyebab kehidupan tumbuh-tumbuhan dan fauna sebagaimana menjadikan syariah sebagai penyebab kehidupan jiwa manusia.

Baca juga: Pengertian Resistor

Prinsip Dasar Syariah

Bank syariah merupakan bank yang beroperasi cocok dengan Prinsip-Prinsip Syariah. Implementasi prinsip syariah berikut yang menjadi pembeda utama dengan bank konvensional.

Pada intinya prinsip syariah itu mengacu untuk syariah Islam yang berpedoman utama untuk Al Quran dan Hadist. Islam sebagai agama yakni konsep yang menata kehidupan insan secara komprehensif dan universal baik dalam hubungan dengan Sang Pencipta (HabluminAllah) maupun dalam hubungan sesama insan (Hablumminannas).

Ada tiga pilar pokok dalam doktrin Islam yakni :

1. Aqidah

komponen doktrin Islam yang menata tentang kepercayaan atas eksistensi dan dominasi Allah sampai-sampai harus menjadi keimanan seorang muslim manakala mengerjakan berbagai kegiatan dimuka bumi semata-mata guna mendapatkan keridlaan Allah sebagai khalifah yang mendapat amanah dari Allah.

2. Syariah

komponen doktrin Islam yang menata tentang kehidupan seorang muslim baik dalam bidang ibadah (habluminAllah) maupun dalam bidang muamalah (hablumminannas) yang adalahaktualisasi dari akidah yang menjadi keyakinannya.

Sedangkan muamalah sendiri meliputi sekian banyak bidang kehidupan antara beda yang mencantol ekonomi atau harta dan perdagangan disebut muamalah maliyah

3. Akhlaq

landasan perilaku dan jati diri yang bakal mencirikan dirinya sebagai seorang muslim yang taat menurut syariah dan aqidah yang menjadi pedoman hidupnya sampai-sampai disebut mempunyai akhlaqul karimah sebagaimana hadis nabi yang mengaku “Tidaklah seandainya Aku diutus kecuali guna menjadikan akhlaqul karimah”

Cukup banyak tuntunan Islam yang menata tentang kehidupan ekonomi umat yang antara lain secara garis besar ialah sebagai berikut:

  • Tidak memperkenankan berbagai format kegiatan yang berisi bagian spekulasi dan perjudian tergolong didalamnya kegiatan ekonomi yang dipercayai akan menyebabkan kerugian untuk masyarakat. Islam menempatkan faedah uang semata-mata sebagai perangkat tukar dan bukan sebagai komoditi, sampai-sampai tidak pantas untuk diperdagangkan lagipula berisi bagian ketidakpastian atau spekulasi (gharar) sampai-sampai yang ada ialah bukan harga uang lagipula dikaitkan dengan berlalunya waktu namun nilai uang guna menukar dengan barang.
  • Harta mesti berputar (diniagakan) sampai-sampai tidak boleh melulu berpusat pada segelintir orang dan Allah paling tidak menyenangi orang yang menimbun harta sampai-sampai tidak produktif dan oleh karenanya untuk mereka yang memiliki harta yang tidak produktif bakal dikenakan zakat yang lebih banyak dibanding andai diproduktifkan. Hal ini pun dilandasi doktrin yang mengaku bahwa status manusia dibumi sebagai khalifah yang menerima amanah dari Allah sebagai empunya mutlak segala yang terdapat didalam bumi dan tugas insan untuk menjadikannya sebesar-besar kemakmuran dan kesejahteraan manusia.
  • Bekerja dan atau menggali nafkah ialah ibadah dan waJib dlakukan sampai-sampai tidak seorangpun tanpa bekerja – yang berarti siap menghadapi resiko dapat mendapat keuntungan atau manfaat(bandingkan dengan pendapatan bunga bank dari deposito yang mempunyai sifat tetap dan nyaris tanpa resiko).
  • Dalam sekian banyak bidang kehidupan tergolong dalam pekerjaan ekonomi mesti dilaksanakan secara transparan dan adil atas dasar suka sama suka tanpa paksaan dari pihak manapun.
  • Adanya keharusan untuk mengerjakan pencatatan atas masing-masing transaksi terutama yang tidak mempunyai sifat tunai dan adanya saksi yang dapat dipercaya (simetri dengan profesi akuntansi dan notaris).
  • Zakat sebagai instrumen guna pemenuhan keharusan penyisihan harta yang adalahhak orang beda yang mengisi syarat guna menerima, demikian pun anjuran yang powerful untuk menerbitkan infaq dan shodaqah sebagai pengejawantahan dari pentingnya pemerataan kekayaan dan memerangi kemiskinan.
  • Sesungguhnya sudah menjadi kesepakatan ulama, berpengalaman fikih dan Islamic banker dikalangan dunia Islam yang mengaku bahwa bunga bank ialah riba dan riba diharamkan.

Baca juga: Pengertian Rumusan Masalah

Penerapan Syariah dalam Dunia Perbankan

Bank syariah merupakan bank yang melaksanakan pekerjaan usaha menurut prinsip syariah, yakni aturan perjanjian menurut hukum Islam antara bank dan pihak lain guna penyimpanan dana dan atau pembiayaan pekerjaan usaha, atau pekerjaan lainnya yang ditetapkan sesuai dengan syariah.

Bank syariah atau kerap dinamakan Islamic Bank di negara lain, bertolak belakang dengan bank konvensional pada umumnya.

Perbedaan utamanya terletak pada landasan operasi yang digunakan. Kalau bank konvensional beroperasi berlandaskan bunga, bank syariah beroperasi berlandaskan untuk hasil, di tambah dengan jual beli dan sewa. Hal ini tak beda didasarkan pada kepercayaan bahwa bunga berisi bagian riba yang dilarang oleh agama Islam.

Di Indonesia, bank syariah telah hadir semenjak mula 1990-an dengan berdirinya Bank Muamalat Indonesia. Kemudian secara perlahan bank syariah dapat memenuhi keperluan masyarakat yang menghendaki layanan jasa perbankan yang cocok dengan prinsip syariah agama Islam yang dianutnya.

Bank syariah mulai pesat sejak era reformasi pada akhir 1990-an sesudah pemerintah dan Bank Indonesia menyerahkan komitmen besar dan menempuh sekian banyak kebijakan guna mengembangkan bank syariah, terutama sejak adanya evolusi undang-undang perbankan dengan UU No.10 tahun 1998.

Adapun ciri-ciri bank syariah dapat disaksikan dari prinsip dasar pengamalan usahanya yang didasarkan pada prinsip-prinsip Islam seperti:

  • Bebas dari bunga atau riba
  • Bebas dari pekerjaan spekulatif yang non produktif laksana perjudian atau maysir
  • Bebas dari hal-hal yang tidak jelas dan meragukan atau gharar
  • Bebas dari hal-hal yang bobrok atau tidak sah atau bathil
  • Hanya membiayai pekerjaan usaha yang halal.

Ekonomi Syariah

Dari namanya, ekonomi syariah yaitu suatu ilmu pengetahuan yang di dalamnya menata permasalahan ekonomi. Berbeda dengan sistem ekonomi yang bersumber dalam filosofi barat yang ingin kapitalis, ekonomi syariah mengusung sekian banyak aspek yang dinilai dari guna dan juga untuk hasil melewati proses halal (kehati-hatian).

Pembeda ekonomi syariah bila dikomparasikan dengan sistem ekonomi lainnya paling jelas. Dalam ekonomi syariah dikenal sistem untuk hasil, penggabungan nilai spiritual dan material, kemerdekaan perdagangan atau unit usaha yang positif atau bisa dipertanggungjawabkan, mengakui kepemilikan multi-jenis, terbelenggu akidah dan moral, larangan praktik riba, sampai ketahanan ekonomi yang merata.

Pada hakikatnya, kekuatan ekonomi syariah menurut keterangan dari sejumlah ulama di Indonesia berbasis pada kekuatan di sektor riil.

Dengan disentuhnya sektor riil, pemerataan ekonomi bisa terjadi seiring dengan terciptanya kebiasaan produksi yang bisa menghasilkan dan memberi nilai tambah untuk perekonomian umat dan masyarakat selama yang ada.

Hukum Bisnis Syariah

Hukum bisnis syariah tidak didasarkan pada aspek-aspek keduniaan seperti jumlah kuantitas atau profit, tetapi halal dan haramnya muamalah.

Konsep halal dan haram ini mencakup segala jenis transaksi, mulai dari pendayagunaan harta, teknik pemerolehan, perjanjian bisnis, dan segala kegiatan keuangan di dalamnya.

Hukum bisnis syariah disebutkan halal bilamana unsur-unsur jual belinya masih dalam batas syariat Islam. Sementara hukum bisnis syariah disebutkan haram bilamana berisi hal-hal yang menentang peraturan agama Islam.

Perbedaan Bisnis Syariah dan Bisnis Konvensional

Selanjutnya kita akan membicarakan perbedaan bisnis syariah dengan bisnis konvensional.

Sebenarnya pekerjaan bisnis antara konvensional dan syariah tidak jauh berbeda. Perbedaannya terletak pada petunjuk dan batasan yang diputuskan menurut syariat agama Islam.

Umumnya, bisnis konvensional selalu berfokus pada memaksimalkan deviden semata. Sedangkan bisnis syariah pun memperhatikan aspek kebermanfaatan dan ketentuan agama, disamping mendapat imbal hasil dari transaksi.

Di samping itu, transaksi syariah mempertimbangkan konsep halal dan haram dari sisi produk, transaksi, pemasaran, sampai akad muamalah.

Sebab pada dasarnya, transaksi syariah bukan sekedar kegiatan jual beli guna profit semata, tetapi juga sebagai format ibadah untuk Tuhan Yang Maha Esa.

Ciri-ciri Bisnis Syariah

Setelah membicarakan hukum bisnis syariah, berikut merupakan sejumlah ciri-cirinya, yaitu:

1. Terdapat Akad

Agama Islam sangat menyimak akad, tidak selalu akad ijab qabul pernikahan saja, tetapi pun akad transaksi jual beli. Tanpa akad yang jelas, suatu transaksi bisnis hukumnya dapat pulang menjadi haram dalam Islam.

Misalnya dalam akad perbankan, Islam tidak mengenal istilah bunga tetapi memakai konsep akad untuk hasil. Padahal andai dilihat, kedua produk perbankan itu sama sama memungut keuntungan. Hanya saja akad transaksi di mula berbeda.

Sehingga dalam kegiatan berdagang, mesti terdapat akad jual beli cocok dengan prinsip muamalah yang telah ditata dalam Islam. Hal ini bertujuan guna memperkuat perjanjian antara penjaja dan pembeli.

2. Halal

Salah satu perbedaan bisnis konvensional dan syariah yakni bersangkutan hukum halal dan haram. Mungkin dalam bisnis konvensional tidak ada batasan produk yang boleh dijual. Namun cocok hukum bisnis syariah, tidak semua produk bisa diperjualbelikan.

Dalam transaksi syariah, jenis produk halal dijadikan obyek jual beli ialah produk dengan kandungan intrinsik halal (tidak berisi babi, minuman keras, narkoba, dan sebagainya. Di samping itu, produk pun harus didapat dengan teknik halal, bukan barang curian, hasil korupsi, atau barang selundupan.

3. Tidak Mengandung Unsur Gharar, Maysir, dan Riba

Islam telah menata secara jelas praktik jual beli dan produk yang berisi bagian riba (bunga), maisir (perjudian), dan gharar (ketidakjelasan) dilarang jelas oleh Islam.

Hal itu dikarenakan ketiga urusan tadi berpotensi merugikan di antara pihak. Padahal dalam Islam, setiap manusia wajib bersikap adil dan tidak dzalim terhadap sesamanya dalam bermuamalah.

Demikianlah penjelasan tentang Syariah dari RuangPengetahuan.Co.Id semoga bermanfaat dan menambah wawasan kalian, sampai jumpa.