Pengertian Resume

Posted on

Pengertian Resume – Tentu istilah resume ini sudah paling akrab di telinga anda semua. Istilah ini tidak sedikit digunakan ketika kita diberi tugas dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah.

Pasti anda pernah menciptakan suatu resume atau essai. Mungkin beberapa dari kalian sudah ada yang bisa melakukannya dengan benar.

Namun ada juga yang masih belum paham mengenai Pengertian Resume dan bagaimana teknik membuat resume yang benar. Nah untuk itu kami bakal secara eksklusif mengulaskannya untuk kalian semua.

Pengertian Resume

Resume merupakan suatu rangkuman atau dapat disebut ringkasan dari suatu tulisan yang mempunyai karakter panjang, lantas hanya dipungut makna-makna yang terpenting dari suatu karangan itu dengan menyertakan juga rinciannya.

Dimana resume ini menjadi salah satu teknik yang efektif saat Kita berkeinginan memberikan suatu keterangan ataupun inti dari pokok ulasan yang bakal Kita sampaikan untuk orang lain.

Mengenai resume ini pastinya sudah tidak sedikit Kita mengetahuinya saat Kita sudah belajar di bangku sekolah, tetapi tentunya di jenjang yang lebih tinggi layaknya sekolah menengah ke atas (SMP).

Namun, terdapat pula yang menyatakan pendapatnya tentang pengertian resume ini yakni dokumen yang isinya tentang sebuah rangkuman dari empiris hidupnya, baik dari sisi bakat yang dimilikinya sampai menjadi orang yang berhasil ataupun dari bidang edukasi yang ditempuhnya dan urusan tersebut dikonsep dengan sebegitu menariknya.

Resume tidak melulu menjelaskan mengenai ringkasan dari sebuah materi yang panjang. Seperti yang telah diterangkan diatas sesungguhnya resume juga dapat digunakan sebagai melamar pekerjaan.

Resume dari lamaran kegiatan itu dapat menjadi bekal sebagai penguat, menyatakan informasi sedetail barangkali tentang siapa dirinya dan seberapa layaknya diterima.

Jadi pada intinya bisa disimpulkan sesungguhnya pengertian resume ialah sebuah ringkasan yang diciptakan dengan memungut bagian dari pokok-pokok artikel yang dapat mewakili maksud artikel atau karangan yang panjang sehingga dapat memudahkan Kita dalam menerima pokok atau inti dari suatu karangan ataupun artikel tersebut.

Cara Membuat Resume

Membuat resume sebetulnya tidak terlalu sulit sebab berpatokan pada artikel aslinya. Berikut ini ialah langkah-langkah membuat resume yang benar:

1. Membaca Naskah Asli

Untuk memahami dan mengetahui isi dari naskah asli suatu karangan tentunya anda harus membacanya sampai selesai. Membaca naskah atau teks aslinya secara berulang-ulang akan menciptakan kita memahami maksud yang ingin dikatakan penulisnya.

Di samping itu, tentu ada sejumlah kata atau istilah dalam sebuah karangan yang susah dipahami. Membuat resume pun harus melibatkan sumber daya lain supaya dapat mengetahui kata atau istilah yang sulit.

2. Menemukan Gagasan Utama

Setelah menyimak karangan atau artikel secara berulang-ulang, tentunya anda akan menemukan usulan utama atau benak utama artikel tersebut. Kita butuh mencatat usulan utama dari artikel tersebut supaya dapat menciptakan ringkasan yang sesuai.

Dalam suatu karangan atau tulisan, tidak seluruh paragraf berisi usulan pokok. Oleh sebab itu, urgen untuk menemukan usulan utama secara teratur supaya penulisan resume tidak melebar.

3. Menulis Resume

Setelah menemukan usulan pokok dari sebuah karangan atau tulisan, tentunya anda memiliki cerminan umum tentang resumenya. Perlu diacuhkan bahwa untuk menciptakan resume mesti dicocokkan dengan teks atau naskah aslinya.

Penggunaan kata dan kalimat dalam resume pun usahakan mencerminkan isi dari teks aslinya. Namun, anda tidak boleh menambahkan pendapat individu di dalam resume tersebut, lagipula bila pendapat individu tersebut berlawanan dengan naskah aslinya.

Sebaiknya resume memakai bahasa Indonesia yang mudah dipahami oleh siapa saja. Walaupun di dalam naskah aslinya terdapat tidak sedikit istilah atau kata yang susah dimengerti, kita dapat menyebutkannya dalam bahasa yang lebih gampang di dalam resume.

Sesuai dengan definisi resume tersebut sendiri, maka kalimat dalam resume tidak butuh bertele-tele. Resume seharusnya diciptakan dalam format ringkasan yang padat, tetapi dapat mewakili isi dari naskah aslinya.

4. Membaca Ulang Resume yang Dibuat

Selanjutnya, sesudah resume selesai dibuat maka pembuat resume mesti membaca ulang untuk mengecek apakah ada kekeliruan penulisan. Beberapa urusan yang perlu dicek diantaranya:

  • Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar
  • Penggunaan ejaan yang benar
  • Penggunaan tanda baca yang benar
  • Memeriksa kecocokan antara resume dengan naskah aslinya.

Baca juga: Pengertian Listrik

Perbedaan Resume dengan Ikhtisar

Tidak jarang anda menyamakan antara resume dan ikhtisar. Sebenarnya kedua istilah ini mempunyai makna yang bertolak belakang satu sama lain. Berikut ini ialah perbedaannya:

1. Pengertian Resume/ Ringkasan/ Rangkuman

Resume/ ringkasan/ rangkuman merupakan isi dari usulan pokok atau intisari dari sebuah karangan atau artikel yang diciptakan dalam format yang lebih pendek. Isi suatu resume tidak bertolak belakang dengan ide usulan pokok yang terdapat pada teks aslinya.

2. Pengertian Ikhtisar

Dilihat dari tujuannya, ikhtisar juga adalah ringkasan sebuah karangan yang diciptakan lebih pendek dari aslinya. Namun, ikhtisar tidak menjaga urutan gagasn pokok yang membina karangan tersebut.

Dengan kata lain, ikhtisar dapat diciptakan seseorang cocok dengan pemahamannnya terhadap sebuah karangan. Pembuat ikhtisar pun dapat menggunakan ucapan-ucapan sesuai pilihannya dalam menyatakan inti sebuah karangan yang dibaca.

Fungsi Resume

Mengenai fungsi resume nyaris sama dengan tujuan dari meresume. Ada sejumlah fungsi resume dintaranya:

  • Menjadikan artikel yang semulanya panjang lebar menjadi ringkas dan kaya makna.
  • Tulisan yang ringkas, padat dan urgen akan gampang diingat.
  • Memudahkan paparan materi sebab telah terkonsep.
  • Memudahkan pembaca menerima pelajaran yang disampaikan.
  • Lebih gampang mengingatkan pelajaran yang sudah lalu sebab tinggal menyimak ulang dari resume yang sudah dibuat.

Baca juga: Pengertian Class Diagram

Jenis-jenis Resume atau Ringkasan

Suatu resume atau ringkasan terdiri atas sejumlah macam seperti ringkasan abstrak, ringkasan stricton sensu dan ikhtisar. Adapun keterangan dari jenis-jenis resume atau ringkasan yaitu sebagai berikut:

1. Ringkasan Abstrak

Yang dimaksud dengan Ringkasan abstrak ialah suatu ringkasan yang singkat dan padat dan biasa ditemukan dalam karya ilmiah.

Biasanya, ringkasan ditulis dengan bahasa sendiri dan gampang untuk anda menyebutkannya, Beda halnya dengan ringkasan abstrak. Dalam menciptakan ringkasan ini, penulisannya mesti cocok dengan karangan asli,

Baik tersebut kesesuaian antara bahasa dan pun sudut pandang. Penilaian juga harus cocok dengan evaluasi aslinya, bukan dari evaluasi pribadi.

Sehingga konsentrasi utama pada ringkasan ini hanya diizinkan memendekkan teks, tanpa merubah bahasa dan sudut pandangnya.

2. Ringkasan Stricto Sensu

Yang dimaksud dengan Ringkasan Stricto Sensu merupakan hasil dari penelusuran isi suatu tulisan dengan menggunakan susunan kata tersendiri dan mencakup pikiran utama.

Di samping itu, seringkali dalam ringkasan jenis ini mengesampingkan item laksana contoh, rinci detail, ilustrasilustrasi, serta hal-hal yang spesifik.

Sebab, pada dasarnya sesuatu yang spesifik itu dapat diabstraksikan. Jenis ini pun harus mengekor urutan serta proporsi naskah asli, tanpa membaur adukkan pendapat pribadi.

Jadi, seluruh hal yang tidak disematkan dalam naskah aslinya tidak boleh disematkan dalam ringkasan. Jenis ringkasan ini seringkali disusun untuk kebutuhan sekolah, tugas dosen maupun guru.

3. Ikhtisar

Arti ikhtisar tersendiri merupakan suatu ringkasan yang menyerahkan kebebasan untuk kita dengan daftar hanya berlaku pada tujuan, tatanan, serta tidak sedikit nya informasi yang bakal Anda tulis. Akan namun dengan kriteria, seluruh yang ditulis di dalam ringkasan mesti cocok dengan isi teks asli.

Contoh Resum

1. Kitab Kebijaksanaan Orang Gila

Kitab Kebijaksanaan Orang-orang Gila (’Uqala` al-Majanin) adalahkarya masterpiece mengenai history kegilaan dalam Islam.

Ditulis oleh Abu al-Qosim an-Naisaburi (w. 1016 M) dari 1.000 tahun yang lalu. Abu al-Qosim an-Naisaburi, seorang berpengalaman tafsir dan hadis, sejarawan sekaligus sastrawan terkemuka di zamannya.

Semua figur yang dikisahkan dalam buku ini bukanlah figur fiktif. Berupa cerita yang nyata mengenai orang-orang yang dirasakan gila dalam Islam.

Beberapa diantaranya dalam kitab ini ialah bernama Uwais al-Qarni, Qois si Majnun, Sa’dun, Buhlul, Salmunah si Wanita Gila, dan beda lain. Namun begitu, mereka ini bukanlah orang-orang tak waras biasa.

Mereka sosok-sosok yang cerdas, jenius, mempunyai akal yang tajam, sarat dengan ucapan-ucapan hikmah, bahkan seringkali dirasakan sebagai Wali yang nyeleneh. Di samping menyajikan 500 kisah-kisah kegilaan yang sarat pesan moral,

Buku yang usianya 400 tahun lebih tua dari Kisah 1001 Malam ini ditulis dengan hati-hati memakai metode periwayatan yang ketat layaknya hadis.

Sehingga tidak mengherankan, bilamana buku ini sudah menjadi buku rujukan untuk kisah-kisah sufi yang sekitar ini sudah beredar.

Dari buku ini, ada tidak sedikit nilai eduktif berupa pesan-pesan inspiratif, Dengan sajian jenaka sekaligus mengandung nasihat moral yang bisa meningkatkan kerinduan kepada sang pencipta, Allah.

Buku ini mengingatkan dan menyerahkan landasan moral bahwa hikmah tersebut ada dimana-mana dan dari manapun, bahkan dari orang yang (dianggap) tak waras sekalipun.

Baca juga: Pengertian Marketing

2. Teologi Feminisme Islam

Pemahaman yang keliru bakal nash al-Qur’an dan Hadis terutama dalam permasalahan perempuan. Pemahaman itu dianggap bahwa mula dari adanya sikap pendeskreditan wanita diranah publik.

Perempuan dicap sebagai makhluk kedua yang kedudukannya di bawah laki-laki. Namun bilamana bersandar pada nash al-Qur’an dan Hadis, maka Islam sebagai agama yang universal sangat memuliakan perempuan tanpa terdapat perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Jika demikian, maka pertanyaannya ialah dimanakah asal pandangan terdapat pembedaan antara laki-laki dan perempuan? menurut keterangan dari para aktivis feminisme bahwa pandangan ini berasal dari ulama mula-mula tentang status dan peran wanita yang terdapat di dalam al-Qur’an dan Hadis yang mereka tulis di dalam kitab-kitab tafsir dan beda sebagainya.

Oleh karena tersebut penyebab utama dalam persoalan penomorduaan wanita di bawah laki-laki berasal dari pemahaman teologis yang bias gender di kalangan ulama mula-mula yang sehubungan doktrin dan doktrin agama Islam.

Buku ini mengupayakan mengungkap akar masalah yang berkesimpulan bahwa terdapat sejumlah permasalahan teologis yang erat dengan isu feminisme, yakni konsep penciptaan insan dalam al-Qur’an, hijab-isasi atau pembatasan wanita dalam ruang publik dan domestik, dan soal metodologi pengartian yang mencetuskan diskriminasi terhadap perempuan.

Persoalan tersebut muncul menurut keterangan dari penulis kitab ini disebabkan konsepsi teologis umat Islam yang masih hanya berkata tentang konsep Tuhan dan melalaikan masalah sosial yang terdapat di hadapannya.

Di samping itu, anggapan bahwa teologi Islam ialah final dan jangan diperbaharui. Padahal terdapat satu realitas sosial yang butuh disikapi, yakni diskriminasi gender.

Penulis kitab ini menyinggung dalam bab kesatunya yang berjudul ‘Menggugat Bias Gender’ bahwa permasalahan mengakarnya gejala ketimpangan gender terjadi melalui hal eksternal dan hal internal. Secara eksternal, realitas sosial politik atau ekonomi global yang berpihak pada pelestarian kebiasaan patriarki.

Sedangkan hal internal pemahaman umat Islam yang masih bias gender. Dalam artikel ini pengarang mereinterpretasi pemahaman bias gender dengan pemahaman yang terbebas dari bias gender.

Buku ini pun membahas Teologis dalam Feminisme Islam, terdapat tiga masalah sebagai mula terjadinya ketimpangan gender yaitu permasalahan penciptaaan manusia, permasalahan hijab dan metodologi pengartian teologi feminisme Islam.

Dalam persoalan pembuatan manusia, penulis kitab ini menggugat pemahaman bahwa perempuan dibuat dari laki-laki. Padahal, Allah menciptakan insan tidak melafalkan secara jelas pembedaan antara laki-laki dan perempuan.

Sedangkan problem hijab-isasi di ruang publik terjadi dampak dikotomi wacana publik dan privat dalam Islam. Perempuan Islam tetap menjalankan tugas reproduksinya tanpa meninggalkan kehidupan publiknya.

Buku ini memberikan contoh istri-istri Nabi Saw yang tercebur dalam ruanng publik dan tak melupakan peranan domestiknya. Dan yang ketiga ialah metodologi pengartian suatu teks yang dipakai masih bias gender yang bisa berdampak fatal yakni melanggengkan dinasti patriarkal.

Buku ini dapat dijadikan referensi untuk menyaksikan isu-isu yang berkembang dewasa ini yang sehubungan dengan feminisme. Walaupun kitab ini paling tipis, namun isi kandungannya lumayan komprehensip.

3. Cinta, Seksualitas dan Matriarki

Masyarakat kapitalis tidak sedikit mendapatkan kritik tajam dari sekian banyak ilmuwan (sosial). Sejak Marxissme ortodoks dirasakan tidak dapat memberikan keterangan terhadap masyarakat (kapitalis) dan rekomendasi praktisnya, mazhab Frankfurt hadir sebagai suatu aliran kritis yang lumayan meluas. Mereka dikenal sebagai kaum neo-Marxis.

Nama Erich Fromm ialah salah satu dari figur mazhab Frankfurt yang mempunyai perhatian besar terhadap arah masyarakat kapitalis dan pengaruhnya terhadap kajian masa rakyat.

Perhatiannya dalam ilmu psikologi sosial membuahkan tidak sedikit karya yang mengindikasikan pemikirannya yang kaya dan tajam. Bahkan bukan psikologi saja yang dibedah, namun juga usulan sosial-humanis. Hampir seluruh karya fromm sudah diterjemahkan di semua penjuru dunia.

Yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan terjual laris di toko-toko kitab di antaranya: The Art of Loving (1956); Man, Beyond the Chains of Illusion (1956); Akar Kekerasan (1941); Konsep Manusia Berdasarkan keterangan dari Marx (1960); Lari dari Kebebasan (1941; Revolusi Harapan (1968).

Buku yang berjudul Cinta, Seksualitas, dan Matriarki: Kajian Komprehensif mengenai Gender, yang merupakan kitab terjemahan dengan judul pribumi Love, Sexuality and Matriarchy about Gender (Fromm International, 1997) seakan menyempurnakan pandangan Erich Fromm tentang permasalahan cinta sebagai aspek sosial dalam kehidupan manusia.

Di kitab ini Fromm menganalisa aspek-aspek psikologi laki-laki dan perempuan, ia mengacu pada karya terbesar Bachofen atas Mother Right (Hak Ibu) sekaligus mengkrtitik Freud tentang fase libidal dan oedipus kompleks, yang malah adalah teori yang mewakili pandangan patriarkhal Freud, dimana menurut keterangan dari Freud “Perempuan ialah manusia yang belum sempurna”.

Melengkapi pemikiran Freud dan Marx memang menyita perhatian besar dalam hidup Fromm. Buku ini mengupayakan mengurai kesimpulan antara cinta, seksualitas, dan matriarki. Menurutnya, wanita secara seksualitas memiliki faedah reproduksi untuk mencetuskan anak.

Sehingga wanita lebih dahulu belajar menebarkan cinta dan kasih sayang terhadap makhluk mendahului batas ego, dan menggunakan keunggulan yang dimilikinya guna memperbaiki keberadaan orang lain. Cinta, perhatian, tanggung jawab terhadap sesama adalahdunia seorang ibu.

Kasih ibu ialah benih yang tumbuh disetiap cinta altruisme. Tapi lebih dari itu, kasih ibu ialah dasar untuk perkembangan humanisme universal (hlm. 6).

Selain sebab melahirkan, potensi kepekaan wanita akan cinta juga diakibatkan oleh empiris psikologis, terutama sebab kodrat tubuhnya, menstruasi yang menciptakan perempuan menyangga sakit nyaris sepanjang hidupnya masing-masing bulan.

Pengalaman menikmati realitas material tersebut menciptakan perempuan begitu tanggap bakal rasa sakit dan peka untuk menikmati penderitaan yang dirasakan oleh orang lain. Perasaannya terlatih guna merasa. Demikian juga, pikirannya begitu peka dan teliti dalam merespon realitas.

Sayang sekali, potensi psikologis itu dalam kurun sejarah tidak didukung oleh kriteria-syarat material yang kondusif. Seiring dengan terjadinya perubahan mengarah ke hubungan buatan yang eksploitatif, ternyata wanita tergeser dari posisi produktifnya mengarah ke ke ranah dalam negeri atau peran-peran yang sempit.

Pada hal sekiranya perempuan diserahkan posisi sebagai pemimpin atau figur publik, mungkin keterampilan hati dan otaknya akan paling berguna. Kodrat alam dijungkirbalikkan dan, sayangnya, citra ibu yang peka bakal kasih sayang tersebut sudah terdistorsi oleh masyarakat yang narsis dan herois.

Citra yang dilekatkan pada perempuan ialah manusia yang sentimental, lemah, dan posesif, serta stereotip negatif lainnya (hlm. 50). Kritik sangat tajam dari seluruh karya Fromm ialah perkembangan psikososial insan dalam masyarakat kapitalis.

Kapitalisme dituduh sebagai penyebab dari penjungkirbalikan citra wanita tersebut, yaitu menanam perempuan sebagai objek pemuas dan jenis kelamin kedua (second sex) dengan mengurangi upah buruh wanita atau mengeksploitasi tubuhnya di untuk pasar kecantikan, di sisi beda roda kapitalisme merujuk sistem matriarki dalam menjual produknya.

Misalnya, sekarang manusia dininabobokan oleh TV, atau antar pribadi dilengkapi fasilitas berkomunikasi dengan adanya telephone mobile, ATM (Anjungan Tunai Mandiri). Kapitalisme menjual produknya untuk memberikan fasilitas dan kenyamanan untuk manusia seperti saat masa kanak-kanaknya saat masih dalam usapan cinta kasih sang ibu.

Namun pembedanya ialah kapitalisme melakukan tersebut semua guna memupuk deviden dan terkadang melalaikan bahkan berjuang mematikan kritik dan daya kreatif manusia.

Menempatkan wanita di posisi yang dilemahkan menandakan berjalannya sistem yang tidak adil dan manusiawi. Seperti yang dikatakan Fromm: “Apapun yang baik dalam hubungan antar satu insan dengan insan lain, ialah baik dalam hubungan antara kaum laki-laki dan kaum perempuan.

Dan apapun yang buruk dalam hubungan manusia ialah buruk dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan” (hlm. 144).

Seperti karya Erich Fromm yang terdahulu, kitab ini pantas dibaca karena mempunyai sifat reflektif dan pembacanya bakal diajak bertukar pikiran mengenai diri-sendiri, tentang masyarakat bahkan sistem yang melingkupinya.

Sebagai pengarang yang mengidealkan relasi sosial (cinta) yang sehat dan produktif, tulisan-tulisan Fromm tidak jarang kali kritis, mengindikasikan detail-detail ungkapan yang unik tentang insan dan masyarakat di era pasar bebas kini ini.

Demikianlah penjelasan tentang Resume dari RuangPengetahuan.Co.Id semoga bermanfaat dan menambah wawasan kalian, sampai jumpa.