Pengertian Qurban

Posted on

Pengertian Qurban – Setiap tahunnya, umat Islam disarankan untuk mengerjakan ibadah kurban pada Hari Raya Idul adha dan tiga hari tasyrik. Pada tahun ini, Hari Raya Idul adha jatuh pada Selasa, 20 Juli 2021.

Adapun hari tasyrik dilangsungkan pada tanggal 21-23 Juli 2021. Hukum ibadah kurban merupakan sunah muakkadah atau amat ditekankan pengerjaannya. Saking pentingnya ibadah kurban, sehingga Rasulullah SAW memberi ancaman untuk orang yang mempunyai kelapangan rezeki, tetapi tak mau melaksanakan kurban.

Hal ini tergambar dalam sabdanya: “Barangsiapa yang mempunyai kelapangan [harta], sementara ia tak berkurban, janganlah dekat-dekat lokasi salat kami,” (H.R. Ahmad, Ibnu Majah, dan Hakim).

Pengertian Qurban

Apa itu Kurban atau Qurban? Kurban atau Qurban (dalam bahasa Arab الأضحية,التضحية) secara harfiah memiliki makna hewan sembelihan. Ibadah qurban (kurban) ialah ibadah menyembelih fauna ternak yang adalahsalah satu unsur dari syiar Islam yang disyariatkan dalam Al Quran.

Umat Islam merayakan hari raya Idul Adha serta penyembelihan fauna kurban pada empat tanggal di bulan Zulhijjah tanggal 10 dan tiga hari tasyriq, yakni 11, 12, dan 13. Berdasarkan keterangan dari ulama Syeikh Wahbah Az-Zuhaily bahwa waktu sangat baik menyembelih fauna pada hari kesatu sesudah Shalat Id sampai sebelum tergelincir matahari. Sedangkan, masa-masa haram menyembelih fauna kurban ketika sebelum shalat Id. Jika tetap melaksanakannya, maka mesti mengulanginya pada tanggal-tanggal yang sudah ditentukan.

Qurban adalah ibadah sunnah muakkad yang Rasulullah SAW anjurkan untuk umatnya. Salah satu alasan Al-Quran mengenai kurban tertulis pada Surat Al Hajj ayat 34:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

Artinya: “Dan untuk tiap-tiap umat sudah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyinggung nama Allah terhadap hewan ternak yang sudah direzekikan Allah untuk mereka, maka Tuhanmu merupakan Tuhan Yang Maha Esa, karena tersebut berserah dirilah anda kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira untuk orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),” (QS. Al Hajj: 34).

Sejarah dan Dalil Qurban

Hari raya kurban mempunyai latar belakang peristiwa mengenai perjuangan Nabi Ibrahim yang sudah lama tidak mempunyai anak. Namun, sesudah Allah mengaruniai Nabi Ibrahim seorang anak, yakni Nabi Ismail, Allah menyuruh Nabi Ibrahim guna menyembelih anak kesatunya.

Tentu terdapat rasa bimbang yang terbesit dalam diri Nabi Ibrahim, sebab selama ini telah menunggu seorang anak, tetapi dia mesti mengurbankannya. Menyembelih leher anak sendiri. Kegalauan Nabi Ibrahim dibalas oleh Nabi Ismail dalam format dukungan, bahwa dirinya ikhlas guna disembelih demi taat untuk Allah.

Maka tatkala anak tersebut sampai (pada usia sanggup) berjuang bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku bahwasannya aku menyaksikan dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah anda akan mendapatiku tergolong orang-orang yang sabar.” (QS Ash Shaaffaat ayat 102)

Saat proses penyembelihan dilaksanakan, dan Nabi Ibrahim berkeinginan menggoreskan belatinya, Allah mengubah tubuh Nabi Ismail dengan seekor domba. Sehingga, Nabi Ismail tidak jadi disembelih. Nabi Ibrahim paling bersyukur, dan semakin mendekatkan diri untuk Allah. Peristiwa ini dirayakan masing-masing tahun, menjadi perintah di dalam Al-Quran, supaya manusia senantiasa bersyukur dan ingat guna menjalankan perintah Allah.

“Maka sholatlah untuk Tuhanmu dan sembelihlah hewan kurban.” (QS. Al-Kautsar: 2).

Baca juga: Pengertian Kalimat

Hukum Qurban

Hukum qurban menurut keterangan dari jumhur ulama ialah sunnah muaqqadah sedang menurut keterangan dari mazhab Abu Hanifah ialah wajib. Allah Ta’ala berfirman:

“Maka dirikanlah shalat sebab Tuhanmu dan berkorbanlah” (QS Al-Kautsaar: 2).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa yang mempunyai kelapangan dan tidak berqurban, maka tidak boleh dekati lokasi shalat kami” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Dalam hadits lain: “Jika kalian melihat mula bulan Zulhijah, dan seseorang salah satu kalian berkeinginan berqurban, maka tahanlah rambut dan kukunya (jangan digunting)” (HR Muslim).

Bagi seorang muslim atau family muslim yang dapat dan mempunyai kemudahan, dia sangat disarankan untuk berqurban. Jika tidak melakukannya, menurut keterangan dari pendapat Abu Hanifah, ia berdosa. Dan menurut keterangan dari pendapat jumhur ulama dia tidak menemukan keutamaan pahala sunnah.

Tata Cara Qurban

Di samping ibadah sunnah, kurban menjadi waktu untuk berbagi harta berupa daging untuk orang yang memerlukan dan tepat. Maka dari itu, perayaan ini mempunyai tata cara supaya pelaksanaan sampai penyerahan daging kurban cocok anjuran Al Quran dan hadis. Berikut tata cara yang mesti diamati baik-baik:

1. Melaksanakan Qurban Sesuai Waktunya

Setiap tahunnya, hari raya Idul Adha dirayakan pada 10 sampai 13 Zulhijjah. Waktu pelaksanaannya dapat dilaksanakan pada ketika setelah berlalu Shalat Idul Adha sampai matahari terbenam.

2. Kenali Syarat Orang yang Bisa Berqurban

Syarat-syarat orang yang mengemban kurban yakni beragama Islam, baligh (dewasa), berakal, dan memiliki keterampilan secara keuangan dan harta yang baik di Hari Raya Idul Adha dan Tasyrik.

3. Proses Penyembelihan Hewan Qurban

Salah satu tata teknik yang mesti diacuhkan oleh pekurban ialah proses penyembelihan tidak membuat fauna kurban gusar. Tempat pemotongan fauna kurban mesti bersih, tidak menarik fauna secara kasar, menghadapkan fauna kurban yang disembelih ke arah kiblat. Lalu, menyimak doa ketika menyembelih:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ,

“Tuhanku, limpahkan rahmat guna Nabi Muhammad SAW dan keluarganya.”
Kemudian sesudah menyembelih, menyimak doa:

بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ مِنْكَ وَ إِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنْ …..

Artinya: “Dengan nama Allah dan Allah Maha Besar, Ya Allah, qurban ini dari-Mu dan untuk-Mu, terimalah qurban …” (Sumber: Kifayah Al-Akhyar).

4. Memilih Jenis Hewan Qurban dan Periksa Kondisinya

Mengutip dari Dompet Dhuafa, pekurban pun harus memahami dan memeriksa kondisi fauna yang bakal dikurbankan. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan dari al-Barra bin Azib radliyallâhu ‘anh bersabda:

أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي الْأَضَاحِيِّ فَقَالَ الْعَوْرَاءُ بَيِّنٌ عَوَرُهَا وَالْمَرِيضَةُ بَيِّنٌ مَرَضُهَا وَالْعَرْجَاءُ بَيِّنٌ ظَلْعُهَا وَالْكَسِيرُ الَّتِي لَا تَنْقَى

“Ada empat macam fauna yang tidak sah dijadikan hewan kurban, “(1) yang (matanya) jelas-jelas buta (picek), (2) yang (fisiknya) jelas-jelas dalam suasana sakit, (3) yang (kakinya) jelas-jelas pincang, dan (4) yang (badannya) kurus lagi tak berlemak.” (Hadits Hasan Shahih, riwayat al-Tirmidzi: 1417 dan Abu Dawud: 2420).

Di samping menghindari cacat, pemilihan fauna kurban mesti tepat supaya kondisi daging yang diberikan segar dan pantas makan. Maka dari itu, pekurban lebih baik memahami asal fauna kurban dengan bertanya untuk peternak. Berikut kriteria-syarat hewan kurban yang mesti diacuhkan oleh peternak dan pekurban:

Baca juga: Pengertian Prestasi Belajar

Syarat-syarat Hewan Qurban

Adapun syarat dari hewan qurban yaitu sebagai berikut.

  • Hewan kurban itu berupa jenis hewan ternak, yakni unta, sapi dan kambing, baik kambing atau domba biasa.
  • Telah sampai umur yang dituntut syari’at berupa jaza’ah (berusia separuh tahun) dari kambing atau tsaniyyah (berusia satu tahun penuh) dari yang lainnya.
  • Ats-Tsaniy dari unta ialah yang sudah sempurna berusia 5-6 tahun.
  • Ats-Tsaniy dari sapi ialah yang sudah sempurna berusia 2 tahun.
  • Ats-Tsaniy dari kambing ialah yang sudah sempurna berusia 1-2 tahun.
  • Al-Jadza’ah dari domba ialah yang sudah sempurna berusia 6 bulan.
  • Bebas dari aib (cacat) yang menangkal keabsahannya, yakni apa yang telah diterangkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sunnah Rasulullah Saat Qurban Idul Adha

Berikut sunnah yang Rasulullah kerjakan saat berqurban di hari raya Idul Adha. Berikut sejumlah perilaku beliau yang bisa umat Islam ikuti:

  • Tidak mencukur rambut dan kuku sampai hewan kurban disembelih
  • Membaca basmalah sebelum menyembelih
  • Menyembelih kurban sesudah shalat Idul Adha
  • Menyembelih secara berdikari (dengan tangan sendiri).

Siapa yang Berhak Menerima Daging Qurban?

Daging hewan qurban tidak hanya diberikan atau dimakan oleh orang yang berqurban dan keluarganya, tetapi juga diperintahkan untuk diserahkan kepada orang lain, seperti:

1. Kerabat

Teman dan tetangga selama berhak menerima daging hewan qurban. Sebagian daging hewan qurban diizinkan untuk diserahkan kepada mereka meskipun mereka kaya.

2. Fakir dan Miskin

Memberikan daging hewan qurban untuk orang fakir dan miskin ialah wajib. Allah SWT menyuruh umat-Nya untuk menyerahkan makanan untuk saudara-saudara anda yang membutuhkan, tergolong sebagian daging hewan qurban.

3. Orang yang Berqurban dan Keluarganya

Mereka yang mengemban qurban beserta keluarganya disarankan memakan beberapa daging qurban. Tersebut dalam hadits riwayat Imam Al Baihaqi yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW tidak santap apapun saat Idul Adha, sampai kembali ke rumah. Saat di rumah, beliau memakan hati dari fauna qurbannya.

Waktu Penyembelihan Qurban

Waktu penyembelihan hewan qurban yang sangat utama ialah hari Nahr, yakni Raya ‘Idul Adha pada tanggal 10 Zulhijah setelah mengemban shalat ‘Idul Adha untuk yang melaksanakannya. Adapun untuk yang tidak mengemban shalat ‘Idul Adha laksana jamaah haji dapat dilaksanakan setelah keluar matahari di hari Nahr.

Hari penyembelihan menurut keterangan dari Jumhur ulama, yakni madzhab Hanafi, Maliki dan Hambali berasumsi bahwa hari penyembelihan ialah tiga hari, yakni hari raya Nahr dan dua hari Tasyrik, yang diselesaikan dengan tenggelamnya matahari.

Pendapat ini mengambil dalil bahwa Umar RA, Ali RA, Abu Hurairah RA, Anas RA, Ibnu Abbas dan Ibnu Umar RA memberitakan bahwa hari-hari penyembelihan ialah tiga hari. Dan penetapan masa-masa yang mereka kerjakan tidak barangkali hasil ijtihad mereka sendiri namun mereka mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (Mughni Ibnu Qudamah 11/114).

Sedangkan mazhab Syafi’i dan beberapa mazhab Hambali juga dibuntuti oleh Ibnu Taimiyah berasumsi bahwa hari penyembelihan ialah 4 hari, Hari Raya ‘Idul Adha dan 3 Hari Tasyrik. Berakhirnya hari Tasyrik dengan ditandai tenggelamnya matahari. Pendapat ini mengikuti dalil hadits, sebagaimana dilafalkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Semua hari Tasyrik ialah hari penyembelihan” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).
Berkata Al-Haitsami: ”Hadits ini semua perawinya kuat”. Dengan adanya hadits shahih ini, maka pendapat yang kuat ialah pendapat mazhab Syafi’i.

Baca juga: Pengertian Pemimpin

Berqurban dengan Cara Patungan

Qurban dengan cara patungan, dilafalkan dalam hadits dari Abu Ayyub Al-Anshari:

“Seseorang di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan satu domba untuk dirinya dan keluarganya. Mereka seluruh makan, sehingga insan membanggakannya dan mengerjakan apa yang ia lakukan” (HR Ibnu Majah dan At-Tirmidzi).

Disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari Abul Aswad As-Sulami dari ayahnya, dari kakeknya, berkata:

“Saat tersebut kami bertujuh bareng Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam sebuah safar, dan kami mendapati hari Raya ‘Idul Adha. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kami untuk mengoleksi uang masing-masing orang satu dirham. Kemudian kami membeli domba seharga 7 dirham.

Kami berkata:” Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam harganya mahal untuk kami”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:” Sesungguhnya yang sangat utama dari qurban ialah yang sangat mahal dan sangat gemuk”. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh pada kami. Masing-masing orang memegang 4 kaki dan dua tanduk sedang yang ketujuh menyembelihnya, lantas kami semuanya bertakbir” (HR Ahmad dan Al-Hakim).

Dan berbicara Ibnul Qoyyim dalam kitabnya ‘Ilamul Muaqi’in setelah menyampaikan hadits tersebut: “Mereka diposisikan sebagai satu family dalam bolehnya menyembelih satu kambing untuk mereka. Karena mereka ialah sahabat akrab. Oleh karena tersebut sebagai suatu pembelajaran bisa saja sejumlah orang melakukan pembelian seekor domba kemudian disembelih. Sebagaimana anak-anak sekolah dengan dikoordinir oleh sekolahnya membeli fauna qurban domba atau sapi lantas diqurbankan.”

Dalam hadits beda diriwayatkan oleh Ahmad dari Ibnu Abbas, datang pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang pria dan berkata:

“Saya berkewajiban qurban unta, sedang saya dalam suasana sulit dan tidak dapat membelinya”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh untuk melakukan pembelian tujuh ekor domba kemudian disembelih”.

Penutup

Sesuatu yang butuh diperhatikan untuk umat Islam ialah bahwa berqurban (udhiyah), qurban (taqarrub) dan berkorban (tadhiyah), ketiganya mempunyai titik persamaan dan perbedaan. Qurban (taqarrub), yakni upaya seorang muslim mengerjakan pendekatan diri untuk Allah dengan amal ibadah baik yang diharuskan maupun yang disunnahkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah berfirman (dalam hadits Qudsi): ‘Siapa yang memerangi kekasih-Ku, niscaya aku sudah umumkan perang padanya. Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri pada-Ku (taqarrub) dengan sesuatu yang sangat Aku cintai, dengan sesuatu yang aku wajibkan.

Dan andai hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan yang sunnah, maka Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya dimana ia mendengar, menjadi penglihatannya dimana ia melihat, tangannya dimana ia memukul dan kakinya, dimana ia berjalan. Jika ia meminta, niscaya Aku beri dan andai ia mohon perlindungan, maka Aku lindungi’.” (HR Bukhari).

Berqurban (udhiyah) merupakan salah satu format pendekatan diri untuk Allah dengan mengorbankan beberapa kecil hartanya, guna dibelikan hewan ternak. Menyembelih hewan tersebut dengan persyaratan yang telah ditentukan. Sedangkan berkorban (tadhiyah) mempunyai makna yang lebih luas yakni berkorban dengan harta, jiwa, benak dan apa saja guna tegaknya Islam.

Demikianlah penjelasan tentang Qurban dari RuangPengetahuan.Co.Id semoga bermanfaat dan menambah wawasan kalian, sampai jumpa.