Pengertian Pantun

Posted on

Pengertian Pantun – Di Beberapa wilayah pantun dijadikan tradisi. Di masa nenek moyang kita, pantun pun sudah tidak jarang digunakan. Sayangnya, di era milenial yang serba modern teknologinya, pantun seolah meredup. Hanya semua sastrawan dan orang yang melek literasi yang mengenal pantun.

Sekedar kembali menilik ilmu mengenai pantun. Untuk pelajar SD atau SMP mungkin pun sudah diajarkan di sekolah. Tetapi untuk yang telah lama tidak bersekolah, lagipula di musim pandemic covid laksana sekarang, menuntut guna belajar secara berdikari tentang panting. Pada pembahasan kali ini anda akan membicarakan pengertian panting, ciri-ciri pantun, struktur dan jenis-jenisnya.

Pengertian Pantun

Pantun adalah salah satu format karya sastra yang terbelenggu dengan aturan. Awal awalnya Pantun ialah sastra lisan, masyarakat tempo dulu terbiasa berbalas pantun. Mereka menyampaikan langsung secara lisan tanpa pikir panjang. Namun Seiring masa-masa berjalan, kini dijumpai pun pantun yang tertulis.

Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau, seorang sastrawan yang hidup sezaman dengan Raja Ali Haji yang kesatu kali sukses membukukan sastra lisan ini. Antologi pantun yang kesatu tersebut diberi berjudul “Perhimpunan Pantun-Pantun Melayu”.

Ciri menarik dari suatu pantun lain ialah pantun tidak menyertakan nama penggubahnya (anonim). Hal ini disebabkan penyebaran pantun dilaksanakan dari mulut ke mulut.

Pantun pun adalah puisi lama, yang telah melegenda di Nusantara. Nyaris semua wilayah mempunyai pantun. Pantun sendiri berasal dari bahasa Minangkabau. Kata aslinya ialah Pantun yang andai diterjemahkan penuntun.

Ternyata meskipun serupa ,di wilayah lain namanya berbeda. Dalam bahasa Jawa, pantun dikenal dengan Parikan. Sementara dalam bahasa Jawa kuno, Tuntun yang berarti benang atau Atuntun yang berarti tertata dan Matuntun yang berarti memimpin.

Di wilayah tatar Sunda, pantun dinamakan Paparikan. Sementara untuk suku Batak pantun mereka sebut Umpasa. Pantun pun ada dalam bahasa Pampanga, Tuntun yang berarti teratur.

Sedangkan dalam bahasa Tagalog terdapat Tonton yang berarti berceloteh menurut keterangan dari aturan tertentu. Bahasa Toba adapula kata Pantun yang berarti kesopanan dan kehormatan. Biasanya, pantun di bina oleh empat larik (atau empat baris bila dituliskan), tiap larik mempunyai 8-12 suku kata.

Pengertian Pantun Menurut Para Ahli

Berikut merupakan definisi pantun menurut beberapa para ahli:

1. Fang (1993:95)

Pantun hadir kesatu kali dalam sejarah melayu. Pantun ada dalam sejumlah hikayat-hikayat yang melegenda. Pantun serupa karma dari kata parik dalam bahasa Jawa. Parik sendiri dengan kata lain pari atau paribahasa. Dalam bahasa melayu peribahasa. Sementara di India sendiri pantun serupa Umpama atau Seloka.

2. Dr. R. Brandstetter

Pantun berasal dari akar kata “tun” dimana tidak sedikit suku bangsa nusantara yang memilikinya. Seperti dalam bahasa Pampanga, tuntun memiliki makna teratur. Bahasa Tagalog juga mempunyai “tonton” yang bermakna cakap menurut keterangan dari aturan tertentu.

Sementara dalam bahasa Jawa kuno, tuntun yang memiliki makna benang atau atuntun yang dimaknai sebagai keteraturan dan matuntun yang dengan kata lain memimpin.

3. Surana (2010:31)

Surana mengaku pantun sebuah format puisi lama yang terdiri atas empat larik, yang berima silang (a-b-a-b). Larik kesatu dan kedua dikategorikan dengan sampiran atau unsur objektif.

Umumnya sampiram berupa suatu lukisan alam atau urusan apa saja seandainya dapat dipungut sebagai sebuah kiasan.

4. Edi dan Farika (2008:89)

Pantun ialah bentuk puisi lama yang telah dikenal luas dalam sekian banyak bahasa di nusantara. Di dalam bahasa Jawa pantun dikenal sebagai parikan, sementara dalam bahasa sunda pantun dikenal sebagai paparikan.

5. Alisyahbana (2004:1)

Pantun ialah puisi lama yang begitu dikenal oleh orang jaman dahulu Pantun paling dikenal pada masyarakat lama. Pantun memiliki ciri-ciri laksana tiap bait terdiri dari empat baris.

Setiap baris terdiri atas 4-6 kata atau 8-12 suku kata. Dimana baris kesatu dan kedua dinamakan dengan sampiran. Sementata baris ketiga dan keempat dinamakan dengan isi.

6. Sunarti (2005:11)

Pantun adalah salah satu format puisi lama, mempunyai keindahan tersendiri dari sisi bahasa, yang di antara ciri keindahan bahasa dalam pantun ditandai oleh rima a-b-a-b.

7. R.O Winstedt

Pantun itu tidak saja sebatas gubahan sebuah kalimat yang memiliki rima serta irama, tapi pun sebuah susunan kata yang estetis untuk melukiskan sebuah kehangatan, asmara, cinta, kasih sayang, rindu bahkan dendam dari penuturnya.

Baca juga: Pengertian Desain Grafis

Unsur-unsur Pantun

Pantun sejatinya mempunyai 2 unsur. Unsur apa sajakah?

1. Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik ialah unsur yang berasal dari struktur pantun tersebut sendiri. Unsur intrinsik dalam pantun diantaranya tokoh, tema, amanat, setting atau latar lokasi dan waktu, plot atau alur, dan beda sebagainya.

Ciri khas pantun sebagai bagian intrinsik ialah rima. Rima dalam pantun memiliki akhiran yang serupa sehingga dapat menjadi pesona tersendiri untuk para pendengarnya.

2. Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik adalah unsur yang berasal dari luar struktur pantun. Unsur ekstrinsik ini dapat disebut jugai latar belakang atau sebuah suasana yangnmenjadi penyebab terbentuknya pantun.

Unsur ekstrinsik menjadi unsur yang sangat urgen yang bakal menilai isi pantun. Unsur ini menjadi penguat dibutuhkan unsur intrinsik yang adalah struktur pantun tersebut sendiri.

Peranan dan Fungsi Pantun

Untuk apa sebetulnya pantun itu?

Pertama, Pantun terbuat sebagai perangkat pemelihara bahasa.

Kedua, andai orang masih memakai pantun,itu dengan kata lain dia telah berjuang menjaga faedah kata serta dapat menjaga alur berfikir. Meskipun akan menyerahkan nasihat, tetapi orang yang berpantun bakal memilih ucapan sebelum mengutarakan.

Ketiga pantun mengajar seseorang berfikir mengenai makna yang ingin dikatakan kata sebelum menyampaikan pada orang yang dituju supaya tidak menyakitkan.

Keempat, orang yang bakal berpantun bakal terlatih guna berfikir asosiatif. Dia bakal hati-hati dalam memungut suatu kata, sebab kata yang dipilihnya bakal mempunyai kaitan dengan kata yang lain.

Kelima, dalam segi pergaulan, pantun memiliki faedah yang kuat, itulah kenapa pantun tetap enak guna dimainkan dalam berkomunikasi.

Membuat pantun tidak gampang ,ketika orang akan menciptakan pantun, orang itu harus berfikir dahulu supaya apa yang dikatakan tetap dalam koridor pantun.

Keenam pantun mengindikasikan kecepatan seseorang dalam berfikir dan memainkan kata- kata. Meskipun, secara umum peran sosial pantun adalahalat penguat paparan pesan.

Ketujuh Peranan pantun ialah bahwa pantun dapat menjadi penjaga dan media kebudayaan untuk mengenalkan serta meyakinkan nilai-nilai masyarakat tetap ada.

Kok bisa? filosofi pantun sebetulnya menjadi mula mula timbulnya Kedekatan nilai sosial. Filosofi pantun yang melekat sekali yakni “pantang melantun”.

Pantang melantun mengisyaratkan bahwa pantun akrab dengan nilai-nilai sosial dan tidak saja sekedar imajinasi. Di belahan Nusantara, di Sumatera Barat tepatnya suku Minangkabau, pantun dipakai dalam sekian banyak acara adat.

Acara yang memakai pantun antara beda acara manjapuik marapulai (menjemput mempelai pria), batagak gala (upacara penobatan gelar), batagak penghulu (upacara penobatan penghulu), atau dalam pidato upacara adat lainnya.

Baca juga: Pengertian Populasi dan Sampel

Struktur Pantun

Pantun mempunyai dua bagian. Bagian kesatu ialah sampiran.nah bagian dua-duanya isi. Sampiran laksana mempersiapkan unsur isi dengan rima dan irama yang sama.

Sampiran dapat jadi tak terdapat hubungannya dengan isi. Namun sampiran memberikan cerminan seperti apa nanti bunyi isi pantun. Kalimat dalam sampiran seringkali dibuat unik supaya pendengar tertarik.

Isi pantun ialah inti dari benak pembuat pantun. Apa yang ingin dikatakan pembuat pantun dituangkan disitu. Tapi tidak boleh sampai rimanya tak sama dengan sampiran supaya enak didengar.

Klasifikasi Pantun

1. Berdasarkan Usia

  • Pantun anak-anak
  • Pantun orang muda
  • Pantun orang tua.

2. Berdasarkan Isi

  • Pantun Jenaka
  • Pantun nasehat
  • Pantun teka-teki
  • Pantun kiasan.

Ciri-ciri Pantun

Berikut ialah ciri-ciri pantun:

  • Memiliki 4 baris, 2 sampiran dan 2 baris isi
  • Setiap baris memuat 8-12 suku kata
  • Sampiran ialah pengantar untuk mengucapkan isi pantun. Meskipun kadang tak terdapat hubungannya dengan isi tetapi rima sampiran menjadi penunjuk rima isi
  • Berakhiran a-a-a-a atau a-b-a-b dapat juga b-a-b-a.

Baca juga: Pengertian SDM

Jenis-jenis Pantun dan Contohnya

Ternyata pantun memiliki beberapa jenis. Berikut jenis pantun beserta contohnya.

1. Pantun Kiasan

Pantun jenis ini biasanya isi pantun berbentuk kiasan jadi, artinya tidak langsung terlihat namun tersirat

Contoh:
Berjalan dalam gelap
Dapatkan ular warna hitam
Berkenalan tanpa menatap
Bagai meraba dalam kelam.

2. Pantun Cinta

Pantun ini berisi pesan-pesan tentang cinta, keromantisan, perasaan rindu antara dua insan yang sedang dimabuk asmara.

Pantun ini bisa juga digunakan untuk merayu.
Ini dia contoh pantunnya

Walaupun laut dikayuh
Tapi mengapa terasa rata
Walaupun kamu jauh
Tetapi mengapa aku cinta.

3. Pantun Nasehat

Pantun nasihat biasanya berisi pesan moral atau bermakna untuk mendidik. Pesan-pesan dalam pantun ini juga menebar kebaikan. Contohnya.

Jalan-jalan ke kota Bandung
Jangan lupa mengisi saku
Kalau kamu sedang bingung
Jangan lupa membaca buku.

4. Pantun Jenaka

Pantun jenaka biasanya digunakan untuk menghibur. Kadang pantun ini juga digunakan untuk saling menyindir namun dalam suasana hangat dan akrab, contohnya.

Ada kera mirip buaya
Keduanya naik pedati
Dikira mirip luna maya
Ternyata yang dilirik Mpok Ati.

5. Pantun Teka-teki

Pantun yang satu ini bisa menghangatkan suasana karena mengajak pendengarnya untuk berpikir. Pantun ini memiliki pertanyaan di bagian isi, contohnya.

Kalau tuan sekuat halilintar
Pakai baju begitu gaya
Kalau tuan memang pintar
Hewan apa yang sangat kaya.

5. Pantun Agama

Pantun ini mengingatkan pada tuntunan agama. Hubungan manusia dengan sang pencipta dan nilai-nilai religi yang kuat. Contoh pantun agama:

Ketika peniti patah
Jangan gantikan dengan busa
Ketika hati melemah
Jangan lupakan Yang Maha Esa.

6. Pantun Peribahasa

Pantun ini tentu saja penuh dengan peribahasa. Siapa yang tak mengenal pantun peribahasa yang satu ini.

Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian.

Demikianlah penjelasan tentang Pantun dari RuangPengetahuan.Co.Id semoga bermanfaat dan menambah wawasan kalian, sampai jumpa..