Pengertian Feminisme, Klasifikasi, Ciri, Sejarah, Kelebihan dan Kekurangannya

Posted on

Pengertian Feminisme, Klasifikasi, Ciri, Sejarah, Kelebihan dan Kekurangannya – Feminisme merupakan sebuah gerakan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan laki-laki. Menurut bahasanya, feminisme berasal dari bahasa Latin “feminina,” yang berarti “perempuan.”

Penggunaan istilah feminisme dipakai pada tahun 1890-an, ini mengarah pada teori kesetaraan laki-laki dan perempuan dan juga pergerakan untuk mendapatkan hak-hak perempuan. Definisi umum feminisme menganjurkan kesetaraan hak-hak perempuan dalam hal politik, sosial dan ekonomi. Orang yang mempraktikkan feminisme disebut feminis.

Membahas tentang Feminisme maka kita akan berbicara tentang bagaimana keadilan dan kesamaan gender dengan laki-laki. Untuk lebih jelasnya, lihat penjelasannya, seperti sejarah feminisme, karakteristik, klasifikasi, kelebihan dan kekurangan feminisme.

Klasifikasi Feminisme

Klasifikasi atau jenis-jenis feminisme antara lain:

1. Feminisme Liberal

Adalah feminisme yang berpegang pada paham liberalisme, yakni mementingkan kebebasan. Ini menjelaskan bahwa semua orang, pria dan wanita berada dalam hubungan yang seimbang dan harmonis satu sama lain dan tidak ada penindasan timbal balik yang mungkin terjadi.

Tokoh gerakan feminisme liberal adalah Mary Wollstonecraft yang menulis buku dengan judl “Vindication of Right of Woman”. Dalam buku itu, ia menjelaskan bahwa pria dan wanita memiliki nalar yang sama, sehingga perlakuan dan hak yang sama harus sama.

Dalam sejarahnya, gerakan feminisme liberal lebih berfokus kepada perjuangan kaum perempuan untuk memperoleh pendidikan yang sama dengan laki-laki.

2. Feminisme Marxis (Komunis)

Feminisme Marxis muncul karena adanya anggapan bahwa ketertinggalan perempuan dikarenakan adanya kapitalis dalam suatu negara. Kapitalisme adalah pemahaman yang menyatakan bahwa individu dapat memperkaya diri sendiri sebanyak mungkin.

Kaum Feminisme Marxis memandang hal itu sebagai ketidakadilan untuk perempuan. Mereka memiliki gagasan bahwa laki-laki mengendalikan program produksi, yang menempatkan mereka pada posisi yang lebih tinggi di masyarakat.

Karena kedudukannya lebih tinggi, maka kaum laki-laki seringkali menekan perempuan yang lebih lemah. Itu dimaksudkan bahwa Marxis feminis akan menghapuskan sistem kapitalis.

3. Feminisme Sosialis

Feminisme sosialis timbul sebab kritik atas feminisme marxis. Feminisme sosialis berpendapat bahwa kapitalisme bukanlah pusat dari masalah status sosial perempuan yang rendah, itulah sebabnya mengapa status perempuan dianggap lebih rendah bahkan sebelum munculnya kapitalisme. Tujuan paling penting dari feminisme sosialis adalah penghapusan hak kepemilikan dalam struktur sosial.

4. Feminisme Radikal

Paham ini timbul di pertengahan abad ke-19 yang menawarkan ideologi “Perjuangan Separatisme Perempuan”. Dalam hal ini, mereka menuntut kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam semua struktur sosial seperti keluarga.

Feminisme radikal ini lebih fokus memperjuangkan hak perempuan dalam aspek biologis. Namun dalam perkembangannya, feminisme ini menjadi ekstrem, mereka mulai menarik perhatian hanya pada wanita. Pria tidak dianggap positif. Asumsinya dimulai bahwa wanita perlu dapat melakukan apa yang mereka inginkan.

5. Feminisme Anarkis

Feminisme anarkis adalah salah satu paham feminisme ekstrim. Mereka mempunyai anggapan bahwa negara dan laki-laki adalah pusat dari semua masalah perempuan. Karena alasan ini, tujuan feminisme anarkis adalah untuk menghancurkan negara dan laki-laki dan untuk mewujudkan impian bahwa perempuan memiliki kekuatan tertinggi dalam struktur sosial.

6. Feminisme Post Modern

Feminisme postmodern adalah gerakan feminisme yang anti terhadap sesuatu dengan sifat absolut dan anti dengan otoritas. Feminis postmodern terkemuka berusaha menghindari pencapaian persatuan yang membatasi perbedaan.

Maknanya adalah kaum feminisme dapat menjadi apapun yang mereka kehendaki, dan tidak ada rumus “feminis yang baik”. Namun demikian, feminisme postmodern memiliki tema atau orientasi dalam gerakannya. Mereka menyebut bahwa seksualitas dibangun oleh bahasa.

Kehidupan manusia tercipta karena bahasa, maka melalui bahasa juga ketidakadilan terhadap perempuan bisa diatasi. Bahasa yang dimaksud dalam hal ini adalah argumen, opini, tulisan dan lainnya.

Kelebihan dan Kekurangan Feminisme

1. Kelebihan Feminisme

  • Memiliki semangat juang yang hebat dan pantang menyerah
  • Sangat sensitif terhadap ketidakadilan
  • Kelompoknya memiliki persatuan yang kuat dan sangat setia.

2. Kekurangan Feminisme

  • Egois yang mengesankan, karena hanya mempertimbangkan sesuatu dengan menggambarkan ketidakadilan yang ada
  • Dalam perkembangannya, ia cenderung memandang rendah laki-laki
  • Berbeda atau bertentangan dengan banyak agama.

Ciri-Ciri Feminisme

Ciri-ciri dari feminisme antara lain:

  • Mengakui bahwa ada perbedaan atau posisi yang tidak adil antara pria dan wanita
  • Menuntut persamaan hak untuk pria dan wanita
  • Pria dianggap sebagai kelompok yang lebih peduli pada diri mereka sendiri.
  • Gerakannya kebanyakan adalah wanita.

Sejarah Feminisme

Sejarah mencatat banyak sumber tentang gerakan perempuan dalam memperjuangkan haknya, tetapi yang paling sering menjadi acuan adalah gerakan yang berkembang di abad 15-18 Masehi di Eropa.

Pergerakan paling pertama ditemukan adalah oleh Christine de Pizan yang menulis tentang ketidakadilan yang diterima wanita. Kemudian pada abad ke-18 gerakan signifikan mulai tumbuh. Ada tokoh utama pergerakan ini yaitu Susan dan Elizabeth.

Ketika itu mereka sudah berhasil melakukan perjuangan hak politik, yakni hak untuk memilih bagi perempuan. Dengan pelopor Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condoracet, gerakan ini berkembang menjadi negara kolonial Eropa pada abad ke-19. Bersama-sama, gerakan-gerakan ini disebut sebagai “Universal Sisterhood”. Terdapat tiga perkembangan gerakan feminisme, antara lain sebagai berikut:

1. Gelombang Pertama

Gelombang pertama atau gelombang suara perempuan ini kali pertama dipelopori oleh seorang aktivis sosialis Charles Fourier di tahun 1837. Dalam gelombang ini, gerakan yang awalnya berpusat di Eropa bergeser ke Amerika. Sejak penerbitan buku berjudul “The Subjection of Women” (1869), perkembangan pesat telah terjadi. oleh John Stuart Mill.

Perjuangan kaum perempuan dalam menuntut revolusi sosial dan politik atas hak-hak perempuan mulai sekitar 1830-1840 untuk menunjukkan hasil. Dengan dihapuskannya perbudakan, hak-hak perempuan dibawa ke permukaan.

2. Gelombang Kedua

Sesudah perang dunia selesai dengan ditandai dengan lahirnya negara-negara baru setelah mereka terbeas dari penjajahan bangsa eropa, gerakan feminisme mencapai puncaknya. Mereka sudah mulai memilih perempuan dalam pemilihan parlemen. Pertumbuhan dan antusiasme wanita untuk membela hak-hak mereka meningkat pada awal 1970-an.

Tokoh yang sering dihubungkan dengan gerakan feminisme kedua ini adalah para feminis Perancis, yaitu Helene Cixous dan Julia Kristeva. Tujuan utama gerakan feminis ini adalah menuntut kebebasan bagi perempuan yang sering diabaikan dan diperlakukan tidak adil.

3. Gelombang Ketiga

Pada gelombang ketiga, feminis sangat fokus supaya memperoleh posisi dalam sistem pemerintahan negaranya. Mereka menganggap bahwa bidang politik adalah tempat yang harus diwakili sehingga hak-hak perempuan dapat terus dilindungi.

Sampai sekarang, feminisme masih ada dan aktif dalam menyuarakan berbagai isu sosial seperti pornografi, hak reproduksi, kekerasan terhadap perempuan atau hak legal perempuan. Kaum feminis juga memainkan peran dalam perjuangan untuk gerakan sosial yang sama dengan gerakan lesbi dan gay.

Demikianlah artikel tentang Pengertian Feminisme, Klasifikasi, Ciri, Sejarah, Kelebihan dan Kekurangannya ini semoga bisa memberi manfaat bagi kita semua, Terimakasih.

Baca Juga Artikel Lainnya:

Pengertian Primordialisme, Dampak, Jenis dan Ciri-cirinya

Pengertian Apatis, Dampak, Penyebab dan Ciri-cirinya

Pengertian Delegasi, Jenis, Unsur dan Tujuannya